Review Drama TV, Film Movie, Musik | Resensi Buku & Cerita | Renungan Berita Terbaru

Galeri

Pacaran Islami ala HAMKA

Belum lama, MD Pictures sukses memfilmkan pacaran islami ala Habiburrahman El Shirazy, Ayat-Ayat Cinta. Kini, kesuksesan itu hendak diulangi atau dilampaui. MD Pictures akan memfilmkan novel pacaran islami ala HAMKA, Di Bawah Lindungan Kaabah. Film Di Bawah Lindungan Ka’bah targetkan 7 juta penonton.

Rencananya, syuting movie ini dimulai bulan ini dan akan ditayangkan mulai hari lebaran mendatang. Seraya menunggu hadirnya film Di Bawah Lindungan Ka’bah the movie, alangkah eloknya bila kita tengok lebih dulu cerita aslinya.

novel HAMKA - Di Bawah Lindungan Ka'bahNovel HAMKA, Di Bawah Lindungan Ka’bah, ini merupakan roman percintaan antara sepasang muda-mudi, Hamid dan Zainab. Hamid ialah anak yatim berbudi luhur yang sangat miskin. Lantaran keluhuran budinya, ia “diangkat” (diasuh) oleh kedua orangtua Zainab, bagaikan anak mereka sendiri.

Lambat laun, setelah menginjak masa remaja, tumbuhlah benih-benih cinta antara Hamid dan Zainab. Namun, mereka hanya memendam rasa itu dalam hati.

Hidupmu yang tiada mengenal putus asa, kesabaran dan ketenangan hatimu menanggung sengsara, dapatlah menjadi tamsil dan ibarat kepada kami.

Masalah berat mulai timbul sejak Hamid diminta oleh orangtua Hamid untuk membujuk Zainab supaya mau dijodohkan dengan lelaki lain. Sebagai anak yang berbakti dan tahu balas budi, Hamid memenuhi permintaan tersebut. Tak terbayangkan olehnya untuk menentang kemauan orang yang telah banyak berjasa kepadanya. Untuk mengatasi sakit hatinya lantaran cinta yang tak sampai, Hamid kemudian diam-diam pergi ke Makkah, berlindung di bawah Ka’bah.

Kue Cinta Kaabah Masjidil HaramNamun, Zainab menolak perjodohan dari orangtuanya. Ia memilih menambatkan hati kepada Hamid. Ia pun berusaha mencari jejak Hamid dan berhasil menemukannya. Lantas terjalinlah komunikasi jarak jauh antara keduanya.

Berkat komunikasi tersebut, Hamid memutuskan untuk pulang kampung. Ia dan Zainab ingin bersatu dalam tali cinta, bersatu secara lahir-batin. Namun sebelum kehendak mereka ini terpenuhi, ajal datang menimpa. Begitulah akhir cerita.

Dari satu sudut pandang, yaitu sudut pandang romantis, bisa kita pandang bahwa roman HAMKA ini mengandung sad ending (akhir yang menyedihkan). Terjadi tragedi cinta karena Hamid dan Zainab gagal bersatu sepenuhnya.

Namun dari sudut pandang lain, yaitu sudut pandang religius atau spiritual, kita berpandangan lain. Bagaimanapun, Hamid dan Zainab “mengambil jalan yang lurus dan jujur di dalam memupuk dan mempertahankan cinta“.

Bukan sedikit belia-belia yang telah menanggung sebagai orang yang telah ditanggung oleh kedua orang itu, tetapi sukar orang yang selamat sampai ke akhirnya. Padahal “rindu dendam” atau “cinta berahi” itu laksana Lautan Jawa, orang yang tidak berhati-hati mengayuh perahu memegang kemudi dan menjaga layar, karamlah ia diguling oleh ombak dan gelombang, hilang ditengah samudera yang luas itu, tidak akan tercapai selama-lamanya tanah tepi.

Dengan nilai-nilai spiritual seperti itulah, kita manusia dapat meraih keselamatan sejati, “kembali kepada Tuhan”. Tidak ada akhir yang lebih membahagiakan daripada keselamatan sejati ini. Dengan demikian, dapat kita terima bahwa novel Di Bawah Lindungan Ka’bah mengandung happy ending (akhir yang membahagiakan) pula.

Akhir cerita yang seperti itu menegaskan bahwa dalam pacaran islami ala HAMKA, hubungan yang bersifat batiniah-spiritual itu jauh lebih penting daripada hubungan yang bersifat fisik-jasmaniah. Dalam pacaran islami ini, sering-sering bertemu tidaklah terlalu perlu. Komunikasi yang efisien bisa dijalin melalui media (misalnya: surat, handphone, dsb.). Yang lebih penting adalah bagaimana membawa cinta manusiawi menuju cinta ilahi.

Komentar ditutup.