Review Drama TV, Film Movie, Musik | Resensi Buku & Cerita | Renungan Berita Terbaru

Galeri

Komik Jepang BestSeller *Topeng Kaca*

Pernah baca komik serial Topeng Kaca (bahasa Jepang: ガラスの仮面 Garasu No Kamen)? Rugi kalau tidak pernah. Komik (manga) yang dikarang dan digambar oleh Suzue Miuchi ini laris-manis dan masih cetak-ulang hingga sekarang. Sejak diterbitkan di majalah Hana to Yume mulai Januari 1976 hingga 2006, serial manga dengan 42 jilid yang belum tamat ini sudah terjual lebih dari 50 juta eksemplar di Jepang. Ini menjadikannya komik terlaris kedua sepanjang masa. Mengikuti kesuksesan ini, cerita komik Topeng Kaca telah disadur dalam bentuk seri drama sandiwara dan film animasi televisi.

Karena komik serial ini belum tamat, sempat beredar kabar burung di kalangan penggemar bahwa Suzue Miuchi sudah meninggal. Namun dua tahun kemudian, yakni pada Juli 2008, Miuchi meluncurkan kembali Topeng Kaca, yaitu jilid 43. Sedangkan jilid 44 diluncurkan pada Agustus 2009.

Di Indonesia, komik ini diterbitkan oleh Elex Media Komputindo. Serinya meliputi: Topeng Kaca, Syair Lidah Api, Sejuta Pelangi, Bayang-Bayang Jingga, Bidadari Merah, Dua Akoya. Seperti di Jepang, seri komik ini menjadi terlaris (best-seller) pula di Indonesia hingga sekarang.


Sinopsis (Rangkuman Cerita)

Judul *Topeng Kaca* secara tersirat mengacu pada “topeng wajah-wajah” yang dipakai oleh para aktor-aktris ketika mengekspresikan emosi yang bukan perasaan mereka sendiri, topeng rapuh yang gampang pecah seperti kaca. Bila penghayatan mereka buyar, maka topeng mereka “pecah”, sehingga mereka mereka mengekspresikan perasaan mereka yang sebenarnya.

Topeng Kaca bercerita tentang perjuangan seorang gadis remaja bernama Maya Kitajima dalam meraih impiannya untuk menjadi aktris profesional di panggung teater. Dalam pada itu, Maya bersaing dengan seorang aktris yang sebaya dengannya, Ayumi Himekawa, putri dari pasangan aktris terkenal dan sutradara dunia.

Maya tidak tergolong sebagai salah satu dari gadis-gadis yang paling cantik atau pun paling pandai di sekolah, tetapi hasratnya menggebu-gebu untuk menjadi aktris teater. Demi peran utama dalam drama teater, beberapa kali ia mempertaruhkan nyawa. Meskipun disepelekan, bahkan juga oleh ibunya sendiri, Maya ingin membuktikan kepada dunia dan dirinya sendiri bahwa ia mampu menggapai cita-cita.

Sebaliknya, semua orang menduga bahwa Ayumi akan sukses karena bakatnya banyak. Ia diperkirakan akan mencapai puncak karir dengan kemampuannya sendiri, tanpa bantuan dari kedua orangtuanya yang populer.

komik Topeng KacaPersaingan Maya dan Ayumi mencapai puncaknya ketika mereka berebut peran utama untuk pementasan Bidadari Merah (karya agung dalam dunia teater) menggantikan pemeran terdahulu, Mayuko Chigusa.

Sejak awal Maya naik ke atas panggung, telah ada seorang pemuda penggemar setia yang diam-diam selalu menyemangatinya di balik mawar jingga. Belakangan, diketahuinya bahwa pemuda ini adalah Masumi Hayami, presiden direktur sebuah perusahaan besar, Daito, yang selama ini dia benci karena dianggapnya paling kejam dan dingin dalam memperlakukan semua artis.

Meskipun terdapat kesenjangan usia sebesar 11 tahun, Masumi jatuh cinta kepada Maya. Namun sementara itu, ada pula pria lain yang juga jatuh cinta kepadanya, yaitu Koji, lelaki yang pernah dekat dengan Maya. Maka mencuatlah kisah cinta segitiga antara mereka.

Selain itu, Maya juga menjalin hubungan manusiawi yang dramatis dengan banyak orang. Diantaranya ialah Chigusa Tsukikage, mentor Maya yang menemukan bakat acting Maya yang hebat ketika mencari pemeran utama Bidadari Merah; dan Hajime Onodera, seorang direktur Daito, yang dengan licik mendesak Chigusa untuk menjual hak pementasan kepada perusahaannya.

Karena Hajime bekerja untuk Masumi, Maya menjadi benci terhadap Masumi. Namun setelah diketahuinya bahwa Masumi adalah si penggemar bermawar jingga, rasa bencinya memudar. Akhirnya, … (silakan baca sendiri komik yang dramatis ini)

2 responses

  1. Ping-balik: KARA menangis di atas pentas, ini dia penyebabnya | Menangislah Bila Perlu

  2. Ping-balik: Otaku: A Passionate Love for 2D Characters | An Ethnographic Journal