Review Drama TV, Film Movie, Musik | Resensi Buku & Cerita | Renungan Berita Terbaru

Galeri

Inilah cerpen yang gak cuma bikin kami menangis, tapi juga…

Karya manusia yang sungguh bagus bukan hanya lezat disantap, melainkan juga bergizi tinggi, higienis, bersih dari polusi. Inilah yang kami rasakan ketika mencerap kata-kata dalam sepotong cerpen karya Noviana Kusumawardhani. Judulnya, “Pemburu Air Mata“. Inilah potongan alinea dari cerpen tersebut yang menumbuhkan kesan nan amat mendalam di hati kami:

… Desaku menjadi desa terindah di seluruh negeri dan air mata adalah hal yang sangat biasa ditemukan di sini. Penduduk desaku hidup dari air mata. Apa pun yang kami lakukan selalu diiringi air mata. Bahkan ketika di saat-saat bahagia sekalipun, saat bersenang-senang, air mata selalu harus hadir di sana. Kami tidak mengenal air mata kesedihan ataupun kebahagiaan. Kami hanya mengenal air mata adalah napas. Seperti detak jantung yang berdentam setiap detik, air mata di desa ini pun adalah hidup mereka. Di sini diyakini orang yang semakin banyak mengeluarkan air mata adalah orang yang benar-benar bahagia…

Kami hanya mengenal air mata adalah napas.” Ini dia yang kami cari-cari selama ini. Inilah harta karun terpendam yang selama ini terlupakan. Maksudnya, bahkan walau serba kekurangan, kita masih bisa berharap menjadi manusia seutuhnya melalui air mata! Atas dasar ini, kamu putuskan untuk menspesialisasikan diri dalam bidang “ilmu menangis”. Maka lahirlah blog Menangislah ini sebagai tempat belajar kami.

Komentar ditutup.