Review Drama TV, Film Movie, Musik | Resensi Buku & Cerita | Renungan Berita Terbaru

Cerpen

Galeri

Inilah cerpen yang gak cuma bikin kami menangis, tapi juga…

Karya manusia yang sungguh bagus bukan hanya lezat disantap, melainkan juga bergizi tinggi, higienis, bersih dari polusi. Inilah yang kami rasakan ketika mencerap kata-kata dalam sepotong cerpen karya Noviana Kusumawardhani. Judulnya, “Pemburu Air Mata“. Inilah potongan alinea dari cerpen tersebut yang menumbuhkan kesan nan amat mendalam di hati kami:

… Desaku menjadi desa terindah di seluruh negeri dan air mata adalah hal yang sangat biasa ditemukan di sini. Penduduk desaku hidup dari air mata. Apa pun yang kami lakukan selalu diiringi air mata. Bahkan ketika di saat-saat bahagia sekalipun, saat bersenang-senang, air mata selalu harus hadir di sana. Kami tidak mengenal air mata kesedihan ataupun kebahagiaan. Kami hanya mengenal air mata adalah napas. Seperti detak jantung yang berdentam setiap detik, air mata di desa ini pun adalah hidup mereka. Di sini diyakini orang yang semakin banyak mengeluarkan air mata adalah orang yang benar-benar bahagia…

Kami hanya mengenal air mata adalah napas.” Ini dia yang kami cari-cari selama ini. Inilah harta karun terpendam yang selama ini terlupakan. Maksudnya, bahkan walau serba kekurangan, kita masih bisa berharap menjadi manusia seutuhnya melalui air mata! Atas dasar ini, kamu putuskan untuk menspesialisasikan diri dalam bidang “ilmu menangis”. Maka lahirlah blog Menangislah ini sebagai tempat belajar kami.


Kembang Kamboja di Rumah Sakit (Cerpen Pipiet Senja)

1 Litre of Tears

Di rumah sakit, teramat banyak kejadian yang sangat dramatis. Banyak cerita drama mengesankan, yang tak terlupakan sampai bertahun-tahun, berlatar rumah sakit. Contohnya: novel/film/drama Jepang 1 Litre of Tears (semoga kelak kita sempat membahasnya). Bahkan walaupun kisah seperti itu disampaikan oleh orang biasa, unsur dramatisnya masih terasa kuat. Contohnya, Kisah Nyata: Remaja Terjangkit Penyakit Kelamin. Mungkin, ini karena kita berhadapan dengan kejadian manusia yang paling dramatis, yaitu kematian.

Kalau yang mengalami perawatan di rumah sakit itu seorang sastrawan, maka dapatlah kita berharap menerima sajian elegi yang sangat menyentuh lubuk hati. Contohnya (lebih…)


Galeri

4 Alasan Mengapa Perlu Menangis & Mendengar Tangisan

crying stone

Ada banyak alasan yang tepat mengapa kita perlu menangis dan mendengar rintihan tangisan. Empat diantaranya terkandung dalam cerpen A.S. Laksana, “Kisah Batu Menangis“, sebagai berikut:
crying stone

  1. agar kita “lebih berhati-hati”; (“Kenangan pahit, kau tahu, akan melekat lebih kuat di dalam pikiran ketimbang kenangan manis.”)
  2. karena “cinta bisa abadi”; (Bahkan bila kita tidak lagi menjadi manusia, karena berubah menjadi batu atau pun debu, cinta sejati itu akan tetap ada dan dinikmati oleh orang-orang. Untuk contoh, silakan simak “Karena Cinta, Han Geng Menangis Saat Menyanyi“.)
  3. supaya segera menjadi lebih bijaksana; (“Sudah saatnya aku memikirkan ketenteraman seperti resi-resi zaman dulu, menghabiskan air mata di tempat sunyi.”)
  4. untuk mengubah segalanya dengan “membawa keberuntungan”. (Menangis itu seolah-olah “tertidur 300 tahun seperti orang-orang dari cerita lama”. Keadaan kita dapat berubah dari yang penuh dengan pertarungan dan kegagalan menuju perdamaian dan kemajuan.)

Misteri Dua Batu Yang Menangis

crying stone

Alkisah, dua orang manusia berubah menjadi batu. Mereka berdua sama-sama menangis. Namun, keadaan keduanya bertolak-belakang. Sungguh misterius. Batu Pertama menangis sedih dan kecewa. Batu Kedua menangis bangga dan bahagia. Mengapa? Silakan baca, renungkan, dan bandingkan cerita rakyat “Batu Menangis” (sedih-kecewa) dan cerpen “Kisah Batu Menangis” (bangga-bahagia).